Tuesday, July 29, 2008

Naik Kijang Istimewa: Si Ijo, Si Abu, Si Biru

Paling asik kalo mengingat kejadian-kejadian di masa lalu. Ada aja yang bikin ketawa, sedih, atau nangis. Apalagi sambil melihat tumpukan album foto yang ternyata udah berdebu di lemari. Makin seru deh. Saat saya membuka setiap lembaran kenangan visual itu, ada satu foto yang membuat saya tercengang.

 
WOW!Ada empat gadis manis ditemani satu kijang gagah. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Ada yang tau saya yang mana? Petunjuk: saya anak sulung lho. Nah, apa yang hebat dari foto ini? Si kijang yang gagah itu lho. Saya ga nyangka si kijang sempat terabadikan di foto ini. Kijang yang satu ini begitu berkesan buat saya. Sebenarnya ini bukan kijang pertama yang pernah mengisi hidup saya (ceileh..).

Si Ijo - Pertama
Yang pertama si ijo, kijang super keluaran tahun 89. Mobil pertama yang keluar masuk garasi, bolak-balik antar jemput sekolah, pergi ke luar kota atau keliling kota. Memang ga banyak kenangan berkesan bersama si ijo. Tapi namanya yang pertama, ya tentu aja selalu teringat. Yah, seperti cinta pertama gitu deh :D

Si Abu - Terkuat
Nah, saat si ijo udah mulai tua, papaku mulai mencari penerus si ijo dari marga yang sama. He eh. Toyota kijang. Lahir pada tahun 1995, kijang super yang satu ini memiliki kulit berwarna abu-abu. Nah, tau kan yang mana? Yang ada di foto di atas tentunya. Apa yang membuat si abu menjadi begitu spesial?

Saat itu, saya dan keluarga naik si abu ke Balige, sebuah kota kecil di dekat Danau Toba yang merupakan kampung halaman papaku. Dari Kota Duri, tempat tinggalku, si abu membutuhkan waktu 12 jam untuk mencapai Kota Balige. Biasanya si papa mengajak teman untuk bergantian menjadi supir. Yah, kan capek 12 jam menyetir. Nah, kali ini si papa solo carrier. Sebenarnya kita udah deg-degan di dalam mobil. Takut si papa kecapekan. Dan dugaan kami benar. Kira-kira setelah setengah perjalanan, di tengah perkebunan kelapa sawit, papa mulai ga fokus, di depan ada belokan, di kanan ada jurang dan CIEEET...mobil memutar 180 derajat dan terbanting ke kanan.

Kebetulan waktu itu saya duduk paling belakang bersama tas-tas yang super duper berat dan akhirnya tertimpa tas-tas itu. Papa mama di depan. Adik-adik di tengah. Semuanya baik-baik saja. Untunglah ada pekerja di perkebunan yang lewat dan menolong kami. Ajaib! Tidak ada yang terluka. Bahkan goresan di kulit pun tidak ada. Hanya rasa pegal karena menahan posisi yang agak ngga masuk akal. Oh ya, ada yang terluka. Badan Si Abu tergores walau tidak parah. Fuh, puji Tuhan! Kami langsung melanjutkan perjalanan dan sampai di Balige dengan selamat.

Si Biru - Terkini
Okey, selanjutnya. Si Biru memang bukan model terbaru dari toyota kijang tapi si Biru adalah model terakhir yang saat ini keluargaku gunakan. Si Biru, krista tahun 2000, jenis yang satu ini ternyata memang lebih baik dari si Abu. Bolak balik Medan-Duri, Padang-Duri, Jambi-Duri, dan kota-kota lainnya, menjadikan si Biru pantas disejajarkan dengan truk pengangkut kayu balak.

Apalagi si Biru adalah mobil pertama yang berhasil aku jalankan dengan baik (haha..dengan baik lho pemirsa :D). Ternyata jadi supir itu gampang-gampang susah :D. Paling susah kalo penumpangnya suka panik. Waktu mama nemenin saya menyetir, mama pasti teriak 'awas di depan ada mobil!' (yaelah masih jauh gitu ma..) atau 'awas ada lubang', 'awas ada anjing lewat' dan awas-awas lainnya.

Selain itu si Biru diajarkan menghargai binatang lho. Waktu adikku bawa mobil, dia melihat ular lagi menyeberang jalan. Iya, lagi menyeberang. Di Duri udah biasa melihat ular lalu lalang. Ularnya lumayan pula. Segede lengan manusia dewasa. Hii, kalo saya yang bawa mobil pasti udah putar balik aja. Si adik ngga. Dia berhenti sampai ularnya lewat baru jalan. Hiiii....


Hehe, oke deh. Itu dia sekelumit kenangan bersama kijang bersaudara (si ijo, si abu, si biru). Kira-kira tahun depan bakal ada pengganti si Biru ga ya? Kalo pemilik modal (baca: papa) sih pengennya innova. Ckck, memang nih kijang. Sekali cinta, ga bisa berpindah ke lain hati :D...

Monday, July 28, 2008

I'm Going Home

Besok saya akan pulang ke Duri, teman! Yeah,,penantian selama dua tahun yang tidak sia-sia karena saya juga akan mendukung adek-adek saya yang tanding marching band di Malaysia.

Nah, masalahnya besok saya bakal naik pesawat komersil sendirian. Apa tengok-tengok? Mau bilang saya cupu? Wajar dong cemas.. Wong biasanya naik pesawat-fasilitas-kantor dari Bandara Halim, turun di Bandara Dumai, naik bus kantor, nyampe deh di rumah tercinta. Udah gratis (jatah sih..), ga perlu susah-susah nyari tiket, lebih cepet nyampenya lagi. Kalo besok?

00.30 WIB : Dijemput Buah Batu Travel, tujuan: Bandara Sukarno-Hatta
04.00 WIB : Sampai di Bandara Sukarno-Hatta
05.30 WIB : Check-in
07.00 WIB : Pesawat take-off
08.40 WIB : Sampai di Bandara Pekanbaru
09.00 WIB : Naik taksi ke Terminal Rumbai
10.00 WIB : Sampai di Terminal Rumbai
13.30 WIB : Naik bus ke Duri
17.00 WIB : Sampai di rumah!

See? Lebih ribet dan lebih banyak mengeluarkan uang T_T.. Apalagi hari Rabu pagi, saya langsung berangkat ke Malaysia naik ferry. Huek. Badan bakal rontok nih..

Okey, semoga rencana di atas berjalan lancar. Tiket pesawat: ok, travel: ok, bus: ok, koper: ?? Hyaaa,, belum selesai packing baraaaang. Yuk ah.. wish me luck :-*

Tuesday, July 22, 2008

Baru 50% S.T.


Yup. Sekarang saya akhirnya sah 50% S.T. Akhirnyaaaa... Penantian yang begitu lama... Masih harus mengejar 50% lagi. Terima kasih buat teman-teman yang sudah bersedia bangun pagi-pagi untuk datang ke seminar saya dan buat teman-teman yang tidak dapat datang atau telat tapi tetap memberi semangat via SMS, YM atau telpon. Senang :D.

Secara keseluruhan, seminar tadi tidak terlalu menyeramkan karena si ibu penguji lebih terasa membimbing daripada menguji. Bodohnya, saya sempat panik dan ga dengar pertanyaan baik-baik. Yang ada malah tebak-tebakan kata kunci dengan ibu penguji T_T.. Bodoh bodoh.. 20 menit presentasi ditambah 60 menit tanya jawab ternyata menyenangkan juga :D

Okey, sekarang harus ngejar 50% S.T. Perjalanan menuju Oktober masih panjang ternyata... Huhuhu... Oke deh, saatnya coding. *Bantuin saya dooong.....*

Friday, July 11, 2008

Pipet dan Comel

Saya baru tahu kalo tiap kota atau daerah punya "kamus" tersendiri. Ga semua kata yang sering saya gunakan di Sumatera dikenal sama orang-orang di daerah lain. Bahkan saya pernah diketawain karena kata-kata yang disebut terdengar aneh atau lucu -_-.

Pernah suatu kali saya minta PIPET ke teman saya, Wahyu, untuk minum es jeruk. Eh eh,,dia malah bengong dan nanya artinya pipet. Saya bingung dan akhirnya malah menjelaskan bentuk, karakteristik, dan fungsi pipet. DODOL. Waktu itu, saya lupa kata ganti pipet -_-. Teman saya itu malah ketawa-ketawa. Menurut dia, kata pipet itu terdengar LUCU.

Lain waktu, saya diketawain lagi sama si Wahyu. Waktu itu saya ngeliat tiga anak kucing lagi lari-lari. Otomatis mulut teriak "Iiii, COMEEEL!!".. Eh eh,,saya dikira ga suka kucing. Kata si Wahyu, comel itu kan artinya cerewet. HEE....Kok gitu siiih...

Yah yah,,sebenarnya masih banyak sih kata-kata yang katanya terdengar "lucu". Apalagi dengan logat saya yang "riau" banget. Kata-kata itu makin terdengar "lucu" deh -__-.


Hohoho,,ada yang tau ga apa itu PIPET dan COMEL? :D

Wajah Baru


Wuhuu,,terima kasih buat bung anggri yang telah menyarankan saya untuk upgrade blogger.

 
template by suckmylolly.com