Paling asik kalo mengingat kejadian-kejadian di masa lalu. Ada aja yang bikin ketawa, sedih, atau nangis. Apalagi sambil melihat tumpukan album foto yang ternyata udah berdebu di lemari. Makin seru deh. Saat saya membuka setiap lembaran kenangan visual itu, ada satu foto yang membuat saya tercengang.
Si Ijo - Pertama
Yang pertama si ijo, kijang super keluaran tahun 89. Mobil pertama yang keluar masuk garasi, bolak-balik antar jemput sekolah, pergi ke luar kota atau keliling kota. Memang ga banyak kenangan berkesan bersama si ijo. Tapi namanya yang pertama, ya tentu aja selalu teringat. Yah, seperti cinta pertama gitu deh :D
Saat itu, saya dan keluarga naik si abu ke Balige, sebuah kota kecil di dekat Danau Toba yang merupakan kampung halaman papaku. Dari Kota Duri, tempat tinggalku, si abu membutuhkan waktu 12 jam untuk mencapai Kota Balige. Biasanya si papa mengajak teman untuk bergantian menjadi supir. Yah, kan capek 12 jam menyetir. Nah, kali ini si papa solo carrier. Sebenarnya kita udah deg-degan di dalam mobil. Takut si papa kecapekan. Dan dugaan kami benar. Kira-kira setelah setengah perjalanan, di tengah perkebunan kelapa sawit, papa mulai ga fokus, di depan ada belokan, di kanan ada jurang dan CIEEET...mobil memutar 180 derajat dan terbanting ke kanan.
Kebetulan waktu itu saya duduk paling belakang bersama tas-tas yang super duper berat dan akhirnya tertimpa tas-tas itu. Papa mama di depan. Adik-adik di tengah. Semuanya baik-baik saja. Untunglah ada pekerja di perkebunan yang lewat dan menolong kami. Ajaib! Tidak ada yang terluka. Bahkan goresan di kulit pun tidak ada. Hanya rasa pegal karena menahan posisi yang agak ngga masuk akal. Oh ya, ada yang terluka. Badan Si Abu tergores walau tidak parah. Fuh, puji Tuhan! Kami langsung melanjutkan perjalanan dan sampai di Balige dengan selamat.
Si Biru - Terkini
Okey, selanjutnya. Si Biru memang bukan model terbaru dari toyota kijang tapi si Biru adalah model terakhir yang saat ini keluargaku gunakan. Si Biru, krista tahun 2000, jenis yang satu ini ternyata memang lebih baik dari si Abu. Bolak balik Medan-Duri, Padang-Duri, Jambi-Duri, dan kota-kota lainnya, menjadikan si Biru pantas disejajarkan dengan truk pengangkut kayu balak.
Apalagi si Biru adalah mobil pertama yang berhasil aku jalankan dengan baik (haha..dengan baik lho pemirsa :D). Ternyata jadi supir itu gampang-gampang susah :D. Paling susah kalo penumpangnya suka panik. Waktu mama nemenin saya menyetir, mama pasti teriak 'awas di depan ada mobil!' (yaelah masih jauh gitu ma..) atau 'awas ada lubang', 'awas ada anjing lewat' dan awas-awas lainnya.
Selain itu si Biru diajarkan menghargai binatang lho. Waktu adikku bawa mobil, dia melihat ular lagi menyeberang jalan. Iya, lagi menyeberang. Di Duri udah biasa melihat ular lalu lalang. Ularnya lumayan pula. Segede lengan manusia dewasa. Hii, kalo saya yang bawa mobil pasti udah putar balik aja. Si adik ngga. Dia berhenti sampai ularnya lewat baru jalan. Hiiii....
Hehe, oke deh. Itu dia sekelumit kenangan bersama kijang bersaudara (si ijo, si abu, si biru). Kira-kira tahun depan bakal ada pengganti si Biru ga ya? Kalo pemilik modal (baca: papa) sih pengennya innova. Ckck, memang nih kijang. Sekali cinta, ga bisa berpindah ke lain hati :D...



